Sukakah Anda dengan puisi? Jika Ya, berarti kita memiliki kesamaan. Saya suka mendengar, membaca dan menulis puisi. Bagi saya, puisi merupakan sesuatu yang indah dan sarat makna, sehingga saya lebih suka mengekspresikan diri dengan menulis puisi.
Biasanya, saya akan memiliki ide/inspirasi menulis puisi ketika hati sedang galau atau sedih. Pada saat itu, kata-kata mengalir seperti air. Saya dapat meluahkan segala hal yang membebani hati. Pilihan kata yang digunakan dalam puisi juga bebas dan tak terbatas. Dengan hanya menggunakan beberapa kata dalam puisi kita dapat menyampaikan banyak hal.
Selain itu, menulis puisi bagi saya adalah satu bentuk ekspresi diri yang positif. Tidak hanya bertujuan meredakan kegundahan hati, tetapi juga menghasilkan sebuah karya yang dapat dinikmati oleh diri sendiri dan orang lain. Hal itu karena puisi merupakan salah satu jenis karya sastra yang bernilai tinggi dan banyak digemari.
Apakah hanya ketika sedang galau, ide menulis puisi itu muncul? Jawabannya tentu Tidak. Masing-masing orang memiliki perbedaan. Mungkin ketika perasaan sedang bahagia, melihat sesuatu yang menarik, atau bahkan dalam kondisi biasa saja.
Jadi, mari kita kembangkan diri dengan membiasakan menulis sesuatu. Salah satu bentuk tulisan yang menarik adalah puisi. Tentunya jika ingin menghasilkan sebuah puisi yang bernilai estetis kita harus menguasai sedikit banyak Teori tentang Puisi.
Berikut salah satu puisi yang saya tulis. Selamat menikmati!
Galau Cinta Merana
Dunia memang fana begitu juga segala isinya
Suka dan duka silih berganti itu biasa
Benci dan cinta pun serupa
Air mata dan bahagia kadang malah hadir pada saat yang sama
Gundah, resah, gelisah itu harmoni jiwa yang bernyawa
Lantas, kenapa hati masih bertanya
Sampai kapan siksa mendera sukma?!
Cinta…
Lagu indah yang sanggup karamkan kapal,
keringkan lautan,
dan hancurkan gunung-gunung
Menghidupkan lagi jiwa yang lama mati,
Menyulap sedu sedan menjadi tawa kegembiraan
Jika hati tak berdusta
Cintapun datangkan pilu tak tertahankan,
Torehkan luka tak terobati
Merana tanpa tahu kapan akan berakhir bahagia
Jiwa
Jiwa
Jiwa
Lantas, kenapa hati masih bertanya
Sampai kapan siksa mendera sukma?!
Satu dua kata tak cukup wakili rasa
Gundah
Resah
Amarah
Menggelora
Hancurkan kembali puing-puing hati yang dulu pernah tertata rapi
Tanpa hujan
Tanpa petir
Tanpa badai
Gelegar lara membahana
Akankah air mata masih bermakna?
Sedu sedan tak lagi bersuara, jeritan histeris tak lagi dirikan bulu roma
Yang ada hanyalah luka-luka menganga
Derita…
Aku mulai menyukaimu!